Sunyi mengundang lara, katanya. Sepi melukis duka, katanya. Bagi kaum cinta begitulah nadanya. Ibarat rindu tak berbalas, terkulum dalam mulut, lalu meleleh pecah, pahit! Maunya tak sendiri memendam rindu ini. Kalau rindu bisa di bagi, mungkin aku mau membagi rindu gratis ini. Tak perlu sakit hati, dengan itu mungkin aku bisa berbagi kesakitan.
Malamnya rinduku memaksa untuk berbicara kepada pemiliknya.
Korban Rindu : "Kurasa malam ini rindu
mengetuk keras atap rumahku."
Pemilik Rindu : "Kenapa bisa begitu? Aku disini diam, tak mengirim rindu sedikitpun kerumahmu.”
rindu ini tepat menusuk relung hatiku,
rinduku merintih menggebu. Ia tak mau
lepas, ingin tetap tinggal, bisiknya."
Pemilik Rindu : “Tenang saja, walau pelangi tak datang malam ini, aku sudah mendekatkan nyawaku disetiap kesedihanmu.”
Korban Rindu : “Selama jarak terus mengejar
apa bisa rinduku sembuh? Jika aku boleh
memerintah, akan kuperintahkan kakimu
membawamu dihadapanku.”
Pemilik Rindu : “Bersabarlah, hanya itu yang dapat kusampaikan. Aku juga mengidap penyakit rindumu itu, asal kau tau dan semoga kamu mengerti.”
Kubeli sebuah kotak berpita indah, disitu kurangkai rinduku dari A sampai Z, dari sunyi, senyap, sengsara kutampung kumasukkan. Hingga pada akhirnya ketika aku bertemu dengan pemilik rindu, dia akan tau rinduku tersusun rapi dibalik kotak pita besar menawan.
Dan pada akhirnya siapa yang harus kusalahkan? Aku? Dirinya? Atau Rindu? Entah. Yang jelas rinduku akan selalu gila.
Ada Rindu yang Tak Tersampaikan dengan Baik.