Wild Dancing Thanksgivng Turkey

Selasa, 10 Desember 2013

Masih dengan 24Juni yang Sama

            Happy Anniversary, Selamat tanggal 24, Sayang ……..
Siapa yang tak senang mendengar kalimat itu? Kalimat suntikan membahagiakan saat mencinta. Kaum Cinta amat menyukai kalimat itu, kecuali Kaum Cinta LDR(Long Distance Relationship), seperti aku, ya aku!
                Mengapa begitu? Bagi kaum Cinta, mereka bisa berdua mengukir, mencatat kembali kisah perjalanan cinta mereka ketika Anniversary datang. Tetapi bagi Kaum Cinta LDR mana bisa? Bertemu menjejakkan ditempat yang sama saja susah. Tak adil bukan? Tetapi pengecualian bagi mereka Kaum Cinta LDR yang memang sudah berencana bertemu dan merayakannya. Itu beda.
                Masih dengan 24Juni yang sama, tanggal sama, bulan sama, sepi sunyap? Sama semua. Ada duka dibalik suka. Ada tangis dibalik tawa. Lagu yang selalu terulang pahit, entah sampai kapan adanya. Toh akan sama saja jika jarak tetap berdiri kokoh di pertengahan raga kami.
                Sedikit tanyaku “Apakah kamu bahagia disana?” Jawabmu selalu, “Asal aku memilikimu pasti aku akan selalu bahagia disini.” Tapi pernahkah kamu mencoba bertanya kepadaku, “Apakah bahagiaku itu mengundang dukamu?” Cobalah tanyakan itu kepadaku.
                24Juniku akan tetap sama, dan perlahan aku akan menikmatinya. Entah berapa luka memar dalam hati yang akan kutampung. Yang jelas, Jangan terlalu menyalahkan jarak. Selama kita masih berada di langit yang sama, mari bersorak bahagia. Toh jodoh juga gak akan ketuker. 
                Aku mencintaimu, Aku mencintai Kita dan Kita mencintai Jarak Kita, bersama. Salam Rindu, tertanda Kekasihmu.

Banyak Orang Beranggapan, mencinta membuat bahagia namun sebahagia apapun mencinta hal yang paling menyenangkan adalah Dicinta.

Minggu, 08 Desember 2013

Sunyi mengundang lara, katanya. Sepi melukis duka, katanya. Bagi kaum cinta begitulah nadanya. Ibarat rindu tak berbalas, terkulum dalam mulut, lalu meleleh pecah, pahit! Maunya tak sendiri memendam rindu ini. Kalau rindu bisa di bagi, mungkin aku mau membagi rindu gratis ini. Tak perlu sakit hati, dengan itu mungkin aku bisa berbagi kesakitan.

            Entah dia merasa atau tidak, yang jelas ribuan peluru rindu telah menembak tepat sasaran. Rindu berjaya, aku merana. Kadang berfikir butuh dokter untuk menyembuhkan, tapi apakah ada dokter spesialis penyakit rindu? Jika ada yang tau, tolong hubungi aku secepatnya. Kurasa penyakit rinduku sudah akut.

            Malamnya rinduku memaksa untuk berbicara kepada pemiliknya.
Korban Rindu : "Kurasa malam ini rindu
mengetuk keras atap rumahku."
Pemilik Rindu : "Kenapa bisa begitu? Aku disini diam, tak mengirim rindu sedikitpun kerumahmu.”

Korban Rindu : "Lantas bagaimana bisa
rindu ini tepat menusuk relung hatiku,
rinduku merintih menggebu. Ia tak mau
lepas, ingin tetap tinggal, bisiknya."
Pemilik Rindu : “Tenang saja, walau pelangi tak datang malam ini, aku sudah mendekatkan nyawaku disetiap kesedihanmu.”
Korban Rindu : “Selama jarak terus mengejar
apa bisa rinduku sembuh? Jika aku boleh
memerintah, akan kuperintahkan kakimu
membawamu dihadapanku.”
                                                                                                                Pemilik Rindu : “Bersabarlah, hanya itu yang dapat kusampaikan. Aku juga mengidap penyakit rindumu itu, asal kau tau dan semoga kamu mengerti.”
            Kubeli sebuah kotak berpita indah, disitu kurangkai rinduku dari A sampai Z, dari sunyi, senyap, sengsara kutampung kumasukkan. Hingga pada akhirnya ketika aku bertemu dengan pemilik rindu, dia akan tau rinduku tersusun rapi dibalik kotak pita besar menawan.
Dan pada akhirnya siapa yang harus kusalahkan? Aku? Dirinya? Atau Rindu? Entah. Yang jelas rinduku akan selalu gila.