Wild Dancing Thanksgivng Turkey

Sabtu, 13 Agustus 2016

BICARA CINTA [kini]

Cinta adalah kuatmu dalam bertahan, tp lepaskan bilamana kuatmu tidak dihargai. Berlaku seadanya dan mencintai sewajarnya.  


Bicara cinta aku belajar tenang, karena aku pernah menyesal karena terburu-buru.
Bicara cinta aku berhenti untuk marah, karena aku lebih sering melihat penyesalan ketimbang kelegaan.


Lelakiku, kelak mungkin kamu akan membaca ini, kelak kamu akan tau bagaimana baris isi hati. 
Wanitamu ini diam-diam menuntut minta diperhatikan, tp tidak menjadikan wanitamu ini pengemis perhatian. Tapi bukannya cinta tak menuntut perhatian sebagai imbalannya? Ya, seharusnya. 
Karna semakin mendalam aku kenal cinta, aku makin gemar menafsirkan tindak lelakiku. 
Dan aku tau, bagaimana lelakiku mengenal bosan terhadapku
Dan aku mengerti, bagaimana lelakiku marah terhadapku
Dan aku tau, bagaimana lelakiku tidak mempedulikanku 
Walaupun sedikit, terkesan tak inginkan yang teramat
Aku pernah beberapa kali mencoba menarik perhatian lelakiku, namun apa daya menengokpun enggan
Hanya diam yang ku terima. 

Namun bicara cinta juga aku belajar kesalahan, ya kesalahan jd orang bisu [read: hanya diam], bisu ketika nada lelakiku mulai kencang dengan kata kasar, bisu ketika di teriaki di depan umum dan bisu ketika harus menerima segala amarah lelakiku. 
Bicara cinta aku belajar jd orang tuli, tidak mau mendengarkan ketika terlibat debat panjang dengan lelakiku. Bukan tak mau menghargai namun sesak hati tak mau dengar. 
Bicara cinta aku bersalah, demi langit dan bumi yang ku pijak aku bersalah. Begitu ringan tangan ini menyakiti lelakiku. 

Untuk lelakiku, 
Bilamana aku salah, jelaskan aku salah
Bilamana aku melakukan hal fatal, ajari aku kehilanganmu
Bilamana aku tidak mau mendengarkan, peluklah aku dan ajari aku bahasa dimana hanya aku dan km yang mengerti
Bilamana kamu bimbang karna bukan aku wanita yang kau mau, pergilah! Cari cinta baru. 
Maaf, telah menjadikanmu 'jahat' di telinga mereka
Maaf, telah merepotkanmu dengan kesenangan sepihak
Maaf, telah menyakitimu banyak-banyak 
Dan maaf, telah menjadi wanitamu yang terlalu muda yang merasa tak terkalahkan dan bebas dengan rasa. 



                                    TERUNTUK LELAKIKU, 

                                      
                                              -ressyan-

Sabtu, 08 Februari 2014

Indah bukan?

"Lihat senyum sahabatmu, menyenangkan bukan? Pertahankan senyuman indah kalian sayang. LAFYU - URYN"

Selasa, 04 Februari 2014

Beritau Aku Dimana Titik Sendumu?

        Beritau aku dimana titik sendumu, dimana kamu benar-benar merasakan kesakitan yang terasa sesak di hati.
        Beritau aku dimana titik sendumu, ketika kamu termenung sendiri menangisi kesendirianmu sekarang.
        Beritau aku dimana titik sendumu, ketika kamu memiliki rindu gila yang tak tersampaikan dengan baik.
        Apakah titik sendumu amat pilu atau sendumu beraksarakan rindu syahdu?  
        Tak bisakah kamu untuk sekedar memberitahuku tentang itu? Tak relakah aku mengetahui dimana titik sendumu? Ataukah dirimu takut aku mengetahuinya? Sepecundang itukah dirimu? Mementingkan reputasi dibandingkan sakit hati. 
        Aku tak akan jadikan titik sendumu kunci untuk menghancurkanmu, sebab kamu terlebih dulu jatuhkan hatiku tersungkur amat jauh terbanting, pecah! Ibarat terdampar di lautan kepedihan sendirian dan butuh waktu lama pulang kembali ke peraduan kebahagiaan.
        Beritau aku juga sampai kapan kamu akan bisa menjawab itu semua?
       
       

Selasa, 10 Desember 2013

Masih dengan 24Juni yang Sama

            Happy Anniversary, Selamat tanggal 24, Sayang ……..
Siapa yang tak senang mendengar kalimat itu? Kalimat suntikan membahagiakan saat mencinta. Kaum Cinta amat menyukai kalimat itu, kecuali Kaum Cinta LDR(Long Distance Relationship), seperti aku, ya aku!
                Mengapa begitu? Bagi kaum Cinta, mereka bisa berdua mengukir, mencatat kembali kisah perjalanan cinta mereka ketika Anniversary datang. Tetapi bagi Kaum Cinta LDR mana bisa? Bertemu menjejakkan ditempat yang sama saja susah. Tak adil bukan? Tetapi pengecualian bagi mereka Kaum Cinta LDR yang memang sudah berencana bertemu dan merayakannya. Itu beda.
                Masih dengan 24Juni yang sama, tanggal sama, bulan sama, sepi sunyap? Sama semua. Ada duka dibalik suka. Ada tangis dibalik tawa. Lagu yang selalu terulang pahit, entah sampai kapan adanya. Toh akan sama saja jika jarak tetap berdiri kokoh di pertengahan raga kami.
                Sedikit tanyaku “Apakah kamu bahagia disana?” Jawabmu selalu, “Asal aku memilikimu pasti aku akan selalu bahagia disini.” Tapi pernahkah kamu mencoba bertanya kepadaku, “Apakah bahagiaku itu mengundang dukamu?” Cobalah tanyakan itu kepadaku.
                24Juniku akan tetap sama, dan perlahan aku akan menikmatinya. Entah berapa luka memar dalam hati yang akan kutampung. Yang jelas, Jangan terlalu menyalahkan jarak. Selama kita masih berada di langit yang sama, mari bersorak bahagia. Toh jodoh juga gak akan ketuker. 
                Aku mencintaimu, Aku mencintai Kita dan Kita mencintai Jarak Kita, bersama. Salam Rindu, tertanda Kekasihmu.

Banyak Orang Beranggapan, mencinta membuat bahagia namun sebahagia apapun mencinta hal yang paling menyenangkan adalah Dicinta.

Minggu, 08 Desember 2013

Sunyi mengundang lara, katanya. Sepi melukis duka, katanya. Bagi kaum cinta begitulah nadanya. Ibarat rindu tak berbalas, terkulum dalam mulut, lalu meleleh pecah, pahit! Maunya tak sendiri memendam rindu ini. Kalau rindu bisa di bagi, mungkin aku mau membagi rindu gratis ini. Tak perlu sakit hati, dengan itu mungkin aku bisa berbagi kesakitan.

            Entah dia merasa atau tidak, yang jelas ribuan peluru rindu telah menembak tepat sasaran. Rindu berjaya, aku merana. Kadang berfikir butuh dokter untuk menyembuhkan, tapi apakah ada dokter spesialis penyakit rindu? Jika ada yang tau, tolong hubungi aku secepatnya. Kurasa penyakit rinduku sudah akut.

            Malamnya rinduku memaksa untuk berbicara kepada pemiliknya.
Korban Rindu : "Kurasa malam ini rindu
mengetuk keras atap rumahku."
Pemilik Rindu : "Kenapa bisa begitu? Aku disini diam, tak mengirim rindu sedikitpun kerumahmu.”

Korban Rindu : "Lantas bagaimana bisa
rindu ini tepat menusuk relung hatiku,
rinduku merintih menggebu. Ia tak mau
lepas, ingin tetap tinggal, bisiknya."
Pemilik Rindu : “Tenang saja, walau pelangi tak datang malam ini, aku sudah mendekatkan nyawaku disetiap kesedihanmu.”
Korban Rindu : “Selama jarak terus mengejar
apa bisa rinduku sembuh? Jika aku boleh
memerintah, akan kuperintahkan kakimu
membawamu dihadapanku.”
                                                                                                                Pemilik Rindu : “Bersabarlah, hanya itu yang dapat kusampaikan. Aku juga mengidap penyakit rindumu itu, asal kau tau dan semoga kamu mengerti.”
            Kubeli sebuah kotak berpita indah, disitu kurangkai rinduku dari A sampai Z, dari sunyi, senyap, sengsara kutampung kumasukkan. Hingga pada akhirnya ketika aku bertemu dengan pemilik rindu, dia akan tau rinduku tersusun rapi dibalik kotak pita besar menawan.
Dan pada akhirnya siapa yang harus kusalahkan? Aku? Dirinya? Atau Rindu? Entah. Yang jelas rinduku akan selalu gila.